Blue Arrow, Bow Tie Hearts Blinking, Letter L

Jumat, 28 Februari 2014

Ini kah Cinta ?...



Aku tidak  mengenal cinta namun sejak duduk di kelas Vlll, saat itu aku hanya mencoba ingilebih dekat dengan seorang insan Tuhan  yang berlainan jenis denganku.
 Setelah aku merasa kenal dan dekat dengannya aku merasakan hal yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.

Sebut saja namanya Udin.
 Aku tahu, dari adik sepupuku yang sekelas dengannya.

 Udin sering bercerita dengan sepupuku kalau dia sering memperhatikanku, kalau aku ke perpustakaan sekolah. Karena kelas si Udin berdampingan dengan perpustakaan. 

Suatu hari,  Udin mendapatkan nomor Handphoneku dari sepupuku. 
Dari situ komunikasi kami berjalan lancar, tepat malam Valentine yaitu tanggal 14 Februari  Udin mengirimkan kata-kata, yang menawarkan agar kami bisa lebih dekat , dengan keputusan malam itu juga aku IYAkan saja tawarannya.
 Bagaimana tidak, Udin itu anak Basket, keren, putih, tinggi, tampan, pintar pula dalam pelajaran.
 *so perfect dech. :)
Semenjak hari itu aku lebih rajin keperpustakaan dengan dua tujuan, pertama mencari buku, kedua mencari sang pujaan hati.
 Meski tak pernah langsung berdampingan dengan Udin aku sangat bahagia. 
Melihatnya dari jauh saja rasanya kaki ini tak lagi berpijak dibumi, Hati berdegup kencang  tak karuan.


“Ooh.. Tuhan inikah Cinta” batinku setiap melihatnya.

Kamis, 27 Februari 2014

Nonfiksi

Menulis Adalah Ladang Ibadah
Penulis adalah menulis dengan hasil yang akan menjadi kebanggaan, nama terkenal, punya penghasilan dari tulisan itu. Tidak peduli apapun yang di tulis, apa itu hanya pelampiasan, curahan hati atau sekedar menulis yang kita suka.
Pernyataan di atas ternyata kurang tepat bahkan mungkin salah. Aku bisa berkata demikian karena aku baru tahu bahwa menulis itu bukan hanya sekedar menulis, meski kunci seseorang dapat  menulis apabila ia :  “Jangan fikirkan apa yang ingin di tulis, tapi tulis yang ada difikiran” namun apa yang ada di fikirkan itu harus mempunyai tujuan yang benar dengan akhlak yang mulia.
Dari sebuah seminar pelatihan menulis yang pernah aku ikuti, aku tahu bahwa menulis merupakan salah satu ladang kita beribah untuk menggapai Ridha Allah SWT. Jika kita menulis mempunyai tujuan agar bermanfaat bagi orang lain insya Allah kita dapat menjadi penulis yang di Ridhoi Allah SWT, aamiin !. Maka menulis dan mempublikasikan tulisan kita akan menjadi amal jariayah atau amalan yang tidak terputus walau orang yang mengamalkannya sudah meninggal.
Hadis tentang amal jariyah yang populer dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya" (HR. Muslim).
Benarlah jika kita ingin mempunyai sebuah amalan yang tidak terputus maka menulisah  tulisan yang bermanfaat.
 Semoga dengan demikian impian aku menjadi seorang penulis yang beraklah mulia dapat tercapai, walau tidak mudah tapi dengan latihan dan selalu mencoba INSYA ALLAH BISA. J
 

Nonfiksi

Teman-teman ini pengalaman aku, nulis Nonfiksi. tapi ngecewain banget buat aku. tau kenapa? karena ... itu pengalaman pertama aku mau ngirim ke inbox FB si Juri lomba, eh.. waktu itu aku lagi pas masih ga tau gi mana cara ngirim link ke inboxnya. Ya hasilnya, di nilai aja nggak wong ga kesampaian kok. :D gimana mau menang coba? ya udah, di nikmati aja yaah. semoga bermanfaat :) Menulis Adalah Ladang Ibadah Penulis adalah menulis dengan hasil yang akan menjadi kebanggaan, nama terkenal, punya penghasilan dari tulisan itu. Tidak peduli apapun yang di tulis, apa itu hanya pelampiasan, curahan hati atau sekedar menulis yang kita suka. Pernyataan di atas ternyata kurang tepat bahkan mungkin salah. Aku bisa berkata demikian karena aku baru tahu bahwa menulis itu bukan hanya sekedar menulis, meski kunci seseorang dapat menulis apabila ia : “Jangan fikirkan apa yang ingin di tulis, tapi tulis yang ada difikiran” namun apa yang ada di fikirkan itu harus mempunyai tujuan yang benar dengan akhlak yang mulia. Dari sebuah seminar pelatihan menulis yang pernah aku ikuti, aku tahu bahwa menulis merupakan salah satu ladang kita beribah untuk menggapai Ridha Allah SWT. Jika kita menulis mempunyai tujuan agar bermanfaat bagi orang lain insya Allah kita dapat menjadi penulis yang di Ridhoi Allah SWT, aamiin !. Maka menulis dan mempublikasikan tulisan kita akan menjadi amal jariayah atau amalan yang tidak terputus walau orang yang mengamalkannya sudah meninggal. Hadis tentang amal jariyah yang populer dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya" (HR. Muslim). Benarlah jika kita ingin mempunyai sebuah amalan yang tidak terputus maka menulisah tulisan yang bermanfaat. Semoga dengan demikian impian aku menjadi seorang penulis yang beraklah mulia dapat tercapai, walau tidak mudah tapi dengan latihan dan selalu mencoba INSYA ALLAH BISA.

Cerpen

Ini tulisan pertama aku, di ikutkan lomba dan al hasil tidak menang. :D Ramadhan Bulan Al-Qur’n Puasa tahun ini Dita jalani berdua bersama ibu saja, berbeda seperti tahun- tahun kemaren karena lima bulan yang lalu ayah Dita berpulang ke rahmutullah. “Hari ini adalah hari pertama berpuasa tanpa ayah” benak Dita Dita melamun memandangi piala yang terpajang di atas lemari ruang tamu. “Dit, kok melamun saja ?” Tanya ibu menghampiri Dita “eemm… ibu, tidak melamun kok bu” sanggahnya “yang bener, sudah sholat zuhur belum ?” “sudah bu, emm… aku hanya teringat dengan Ayah bu.” “Oh ya?, teringat bagaimananya dit?” ibu mendekati Dita sambil tersenyum “Ibu ingat Dita dapat piala itu kan bu ?”Dita menunjuk piala yang tersimpan didalam lemari kaca. Piala itu adalah hadiah juara satu menghatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan tahun lalu. Acara itu berlangsung tepat tiga hari sebelum Idul Fitri dan tidak pernah ia duga, karena sebelumnya ia hanya ikut bersama Ayahnya ke sebuah pengajian di mesjid kota. Setelah pengajian ternyata ada kuis dari panitia penyelenggara yang bertema Ramadhan khatam Al-Qur’an. Dan siapa yang sudah mengkhatam Al-Qur’n ia berhak mendapat hadiah itu. Maka terpilihlah Dita karena ia telah selesai 30 juz membaca Al-Qur’an. “ingat sayang, itukan piala pertama anak ibu.” Jawab ibu bangga “hehe… Dita jadi kangen Ayah bu.” “iya sayang, kalau Dita kangen Dita selalu do’akan Ayah di sana ya!, semoga Ayah di sana bahagia dan mendapat tempat yang layak di sisi Allah.” “Insya Allah Dita selalu ingat mendoakan Ayah bu.” “Pintar anak mama” Ibu dita membelai kepala anaknya Dita tersenyum manis. “Dita juga jangan lupa pesan Ayah nak ya” “insya Allah bu, tapi pesan Ayah banyak ya bu?” Dita menggaruk kepalanya “yang Dita ingat apa ?, coba ceritakan sama ibu nak ?” “Eeemm… yang paling Dita ingat tentang piala itu bu.” Dita tersenyum bahagia “apa pesan Ayah tentang itu nak?” Tanya ibu penasaran “waktu itukan bu, Dita habis sholat zuhur langsung main hp lalu Ayah menghampiri Dita, Ayah bertanya kenapa Dita tidak membaca Al-Qur’an selepas sholat, kata Ayah kita kan harus membaca Al-Qur’an sebagai umat islam, apalagi bulan Ramadhan.” “terus Dita langsung ngaji nak?” “tidak bu, Dita lanjut ngobrol saja sama Ayah, kata Ayah kita harus membaca Al-Qur’an satu hari selesai 30 juz, mata Dita langsung terbelalak bu mendengarnya, tapi Ayah tersenyum saja.” Ibu tersenyum. “Tapi kata Ayah: kalau tidak bisa satu hari khatam,ya selesai satu juz satu hari, kalau masih tidak bisa, satu surah saja, masih tidak bisa juga ya satu Ayat satu hari, kalau masih tidak bisa satu ayat di pandangi saja Al-Qur’annya lalu tanya pada hatimu kenapa dirimu jauh dari Al-Qur’an ?” lanjut Dita “jadi itu semangat Dita mengkhatam Al-Qur’an ?” tanya ibu “iya bu, kata Ayah juga kalau bulan Ramadhan itu adalah bulan Al-Qur’n, pahala beribadah dibulan Ramadhan itu berkali-kali lipat di banding bulan yang lain.” “benar sayang, anak ibu pintar” “kemaren itukan bu, Dita mengkhatamkan Al-Qur’an di satu bulan puasa, tidak di sangka dapat hadiah.” “itu karena Dita melakukannya ikhlas karena Allah, iya kan niat Dita seperti itu ?’ “benar bu, itu juga pesan Ayah lakukan semuanya karena Allah bukan karena Ibu atau Ayah” Dita bersemangat “Alhamdulillah, anak mama pintar” ibu mencium pipi Dita yang mungil. Muka Dita memerah. “Kamu tidak mengantuk nak?” Tanya Ibu sambil berdiri. “Tidak bu, kalau Ibu mau tidur ayolah Dita temani Ibu.” Dita meraih tangan ibunya dengan senyum indah di pipinya.